Rabu, 06 Februari 2013

LAPORAN KULTUR JARINGAN



KULTUR ANTHER PEPAYA SECARA IN VITRO UNTUK MENGHASILKAN TANAMAN HAPLOID



Disusun oleh :
Nama : Jefri Sasongko
NIM : C1103013





PROGRAM STUDI DIII AGROTEKNOLOGI
POLITEKNIK BANJARNEGARA
2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Dasar Teori.
Kultur antera merupakan salah satu teknik untuk mendapatkan tanaman haploid sehingga seringkali dikenal dengan nama kultur haploid. Tanaman dari hasil kultur antera merupakan tanaman haploid digunakan untuk menghasilkan kultivar atau hibrida FI yang akan digunakan sebagai bahan seleksi oleh pemulia tanaman. Yang dimaksud tanaman haploid adalah tanaman yang mempunyai jumlah kromosom sama dengan gemetofitik dalam sel sporofitik (Bajaj 1983 dalam Gunawan 1992).
Kultur antera atau kultur  haploid banyak dipergunakan dalam menghasilkan kultivar-kultivar baru karena memiliki beberapa keunggulan. Menurut Wattimena et al (1992)tanaman haploid memberikan beberapa keuntungan antara lain : (1)semua sifat dapat ditampilkan pada keadaan monohaploid baik sifat dominan maupun sifat resesif, (2) seleksi pada tingkat haploid (mono atau di)jauh lebih mudah dari tingkat polidi yang lebih tinggi , (3)penggandaan dari tanaman monohaploid akan menghasilkan tanaman tetraploid yang homozigot. (4)hibridisasi seksual antara tetraploid dan diploid akan menghasilkan tanaman triploid, demikian pula dengan hibridiasi somatic antara monohaploid dan dihaploid, (5) pada tanaman asparagus kultur haploid dipergunakan untuk menghasilkan tanaman super jantan yang selanjutnya dipergunakan untuk menghasilkan tanaman jantan, (6) tanaman diploid dan tetraploid dapat dilepaskan sebagai kultivar baru atau dipergunakan sebagai hibrida FI.
Menurut Rostini  (1999), keberhasilkan kultur antera sangat dipengaruhi oleh kondisi pertumbuhan dari tanaman donor, umur tanaman donor, tahap perkembangan antera/pollen, metode sterilisasi , perlakuan sebelum kultur, metode pengambilan antera, medium kultur (cair atau padat), kondisi inkubasi dan subkultur dari kalus mikrospora atau embrio.
Dalam kultur antera , sering timbul masalah seperti munculnya tanaman albino, dimana frekuensi terjadinya tanaman albino bervariasi dan dipengaruhi oleh tanaman donor dan kondisi kultur in-vitro (Chung, 1992 dalam Wattimena et al 1992).

1.2.Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk memberi pengetahuan kepada praktikan mengenai cara dan model penanaman pada media kultur anther, serta memberi keterampilan untuk menjaga keseterilan pada saat melakukan penanaman.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kultur anther merupakan salah satu teknik dasar penerapan bioteknologi untuk pemuliaan tanaman.Dari kultur anther akan didapatkan tanaman haploid. Pembentukan tanaman haploid melalui pembentukan kalus atau androgenesis langsung. Manfaat tanaman haploid dalam pemuliaan tanaman adalah apabila digandakan kromosomnya dengan kolkhisin atau melalui fusi protoplas akan diperoleh tanaman 100% homozigot (http://www.rudyct.com, 2010).
Kultur anther dan serbuk sari digunakan untuk menghasilkan tanaman monoploid atau haploid. Meskipun mutasi mudah terjadi dalam sel biakan  namun banyak mutasi tersebut bersifat resesif. Oleh karena itu tidak terdektesi karena sel– selnya dalam keadaan diploid atau poliploid (Wijayani, 1994).
Kegunaan kultur anther antara lain mampu menghasilkan tanamn monohaploid yang dapat digunakan untuk pemuliaan tanaman selanjutnya dan dapat menghilangkan sifat resesif, serta dari monohaploid dapat dihasilkan derivate yang dihaploid (diploid) dengan cara merangkapkan kromosom dengan perlakuan kolkisin dan mengadakan silangan tanaman monohaploid dan untuk membuat tanaman homozigot (Bennet dan O’neil, 1989).
Tanaman haploid dapat dikembangkan dengan menggunakan teknik kultur invitro anther dan pollen. Anther diperoleh dari tunas bunga dan dapat dikulturkan pada medium padat atau cair sehingga terjadi embriogenesis. Selain itu pollen juga dapat diambil secara aseptik dan dikulturkan pada medium cair. Proses perbanyakan tanaman haploid dengan menggunakan gametofit jantan semacam ini diesebut sebagai androgenesis. Ada dua macam androgenesis yaitu androgenesis langsung dan tidak langsung. Androgenesis langsung adalah proses pembentukan plantlet haploid dengan menggunakan kultur anther, sedangkan pada androgenesis tidak langsung adalah plantlet terbentuk melalui pembentukan kallus yang kemudian mengalami regenerasi menjadi plantlet (Yuwono, 2008).

BAB III
METODELOGI
3.1.Alat dan Bahan
A.     Alat
Alat yang digunakan yaitu : pinset, gunting, botol kultur, laminar air flow cabinet, lampu spritus, dan kertas tisu.
B.      Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah bunga papaya jantan dan bunga papaya betina yang masih kuncup pada berbagai umur fisiologi, media tanaman (komposisi media MS0), alcohol 70%,.
3.2. Prosedur Kerja
1.      Kuncup bunga dipisahkan dari tanaman papaya sesuai ukurannya. Ukuran kuncup bunga berkolerasi dengan umur bunga.
2.      Kuncup bunga disterilisasi dengan cara mencelupkan bunga kedalam alcohol 70% lalu dilewatkan diatas api pembakar spiritus, lalu diamkan hingga apinya padam.
3.      Langkah ke -2 diulangi hingga 2 ksli
4.      Kuncup bunga dibuka dengan pinset dan korolnya dibuang dengan hati-hati agar anteranya tidak rusak
5.      Anteranya dilepaskan dari tangkai bunga dan tanam pada media kultur N6
6.      Kultur antera selanjutnya disimpan pada kondisi gelap untuk menginduksi pertumbuhan kalus
Selanjutnya dilakukan pengamatan , yaitu :
1.      Jumlah antera per bunga dan warna antera
2.      Jumlah antera yang tetap kuning dan jumlah yang menjadi coklat
3.      Jumlah kultur yang mengalami kontaminasi
4.      Saat terbentuk kalus dan jumlah antera yang membentuk kalus

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.                                                Hasil
Dari kegiatan praktikum kali ini adalah mengenai anther pada bunga papaya jantan dan bunga papaya betina yang masih kuncup. Dimana bunga papaya tersebut memiliki besar dan jumlah benang sari sbb :
No
Ukuran Bunga pepaya
Panjang
Jumlah benang sari
1
Bunga papaya besar
(kuning)
a.       3,3 cm
b.      3,4 cm
c.       3,5 cm
d.      3,4 cm
e.       3,3 cm
a.       5
b.      5
c.       5
d.      5
e.       5

Rata-rata
3,38 cm
5
2
Bunga papaya sedang
( hijau (-))

a.       3 cm
b.      3 cm
c.       2,9 cm
d.      2,5 cm
e.       3 cm
a.       5
b.      5
c.       5
d.      5
e.       5

Rata-rata
2,28 cm
5
3
Bunga papaya kecil
(hijau (+))
a.       1,8 cm
b.      1,7 cm
c.       1,6 cm
d.      1,8 cm
e.       1,6 cm
a.       5
b.      5
c.       5
d.      5
e.       5

            Rata-rata           
1,7 cm
5

Dimana didapat hasil dari kultur anther tersebut adalah :
NO
Gambar
Keterangan
1

Hasil penanaman pada minggu pertama
2
Pengamatan pada minggu kedua
3
Pengamatan pada minggu ketiga

4.2.                                                Pembahasan
Kultur antera atau kultur  haploid banyak dipergunakan dalam menghasilkan kultivar-kultivar baru karena memiliki beberapa keunggulan
Anther diperoleh dari tunas bunga dan dapat dikulturkan pada medium padat atau cair sehingga terjadi embriogenesis. Selain itu pollen juga dapat diambil secara aseptik dan dikulturkan pada medium cair. Proses perbanyakan tanaman haploid dengan menggunakan gametofit jantan semacam ini diesebut sebagai androgenesis.


BAB V
PENUTUP
5.1.Kesimpulan
Kultur anther dan serbuk sari digunakan untuk menghasilkan tanaman monoploid atau haploid. Meskipun mutasi mudah terjadi dalam sel biakan  namun banyak mutasi tersebut bersifat resesif.


DAFTAR PUSTAKA

Hendaryono,D. P. S. Dan Ari. W., 2004. Teknik Kultur Jaringan-Pengenalan dan Petunjuk Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif Modern, Kanisius, Yogyakarta.
Rahardja, D. C. 2001. Kultur Jaringan, Teknik Perbanyakan Tanaman Secara Modern. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rostini, N. 1999.Diktat Kuliah Pengantar Bioteknologi Dalam Pemuliaan Tanaman.Bandung :Fakultas Pertanian, Universitas Pedjadjaran.