KULTUR
ANTHER PEPAYA SECARA IN VITRO UNTUK MENGHASILKAN TANAMAN HAPLOID
Disusun
oleh :
Nama
: Jefri Sasongko
NIM
: C1103013
PROGRAM
STUDI DIII AGROTEKNOLOGI
POLITEKNIK
BANJARNEGARA
2012
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.Dasar Teori.
Kultur
antera merupakan salah satu teknik untuk mendapatkan tanaman haploid sehingga
seringkali dikenal dengan nama kultur haploid. Tanaman dari hasil kultur antera
merupakan tanaman haploid digunakan untuk menghasilkan kultivar atau hibrida FI
yang akan digunakan sebagai bahan seleksi oleh pemulia tanaman. Yang dimaksud
tanaman haploid adalah tanaman yang mempunyai jumlah kromosom sama dengan
gemetofitik dalam sel sporofitik (Bajaj 1983 dalam Gunawan 1992).
Kultur
antera atau kultur haploid banyak
dipergunakan dalam menghasilkan kultivar-kultivar baru karena memiliki beberapa
keunggulan. Menurut Wattimena et al (1992)tanaman haploid memberikan beberapa
keuntungan antara lain : (1)semua sifat dapat ditampilkan pada keadaan
monohaploid baik sifat dominan maupun sifat resesif, (2) seleksi pada tingkat
haploid (mono atau di)jauh lebih mudah dari tingkat polidi yang lebih tinggi ,
(3)penggandaan dari tanaman monohaploid akan menghasilkan tanaman tetraploid
yang homozigot. (4)hibridisasi seksual antara tetraploid dan diploid akan
menghasilkan tanaman triploid, demikian pula dengan hibridiasi somatic antara
monohaploid dan dihaploid, (5) pada tanaman asparagus kultur haploid
dipergunakan untuk menghasilkan tanaman super jantan yang selanjutnya
dipergunakan untuk menghasilkan tanaman jantan, (6) tanaman diploid dan
tetraploid dapat dilepaskan sebagai kultivar baru atau dipergunakan sebagai
hibrida FI.
Menurut
Rostini (1999), keberhasilkan kultur
antera sangat dipengaruhi oleh kondisi pertumbuhan dari tanaman donor, umur tanaman
donor, tahap perkembangan antera/pollen, metode sterilisasi , perlakuan sebelum
kultur, metode pengambilan antera, medium kultur (cair atau padat), kondisi
inkubasi dan subkultur dari kalus mikrospora atau embrio.
Dalam
kultur antera , sering timbul masalah seperti munculnya tanaman albino, dimana
frekuensi terjadinya tanaman albino bervariasi dan dipengaruhi oleh tanaman
donor dan kondisi kultur in-vitro (Chung, 1992 dalam Wattimena et al 1992).
1.2.Tujuan Praktikum
Praktikum
ini bertujuan untuk memberi pengetahuan kepada praktikan mengenai cara dan
model penanaman pada media kultur anther, serta memberi keterampilan untuk
menjaga keseterilan pada saat melakukan penanaman.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Kultur anther merupakan salah satu teknik dasar penerapan
bioteknologi untuk pemuliaan tanaman.Dari kultur anther akan didapatkan tanaman haploid. Pembentukan tanaman haploid melalui pembentukan
kalus atau androgenesis langsung. Manfaat tanaman haploid dalam pemuliaan
tanaman adalah apabila digandakan kromosomnya dengan kolkhisin atau melalui fusi protoplas
akan diperoleh tanaman 100% homozigot (http://www.rudyct.com,
2010).
Kultur anther dan serbuk sari digunakan untuk
menghasilkan tanaman monoploid atau haploid. Meskipun mutasi mudah terjadi
dalam sel biakan namun banyak mutasi tersebut bersifat resesif. Oleh
karena itu tidak terdektesi karena sel– selnya dalam keadaan diploid atau
poliploid (Wijayani, 1994).
Kegunaan
kultur anther antara lain mampu menghasilkan tanamn monohaploid yang dapat
digunakan untuk pemuliaan tanaman selanjutnya dan dapat menghilangkan sifat
resesif, serta dari monohaploid dapat dihasilkan derivate yang dihaploid
(diploid) dengan cara merangkapkan kromosom dengan perlakuan kolkisin dan
mengadakan silangan tanaman monohaploid dan untuk membuat tanaman homozigot
(Bennet dan O’neil, 1989).
Tanaman haploid dapat dikembangkan dengan menggunakan
teknik kultur invitro anther
dan pollen. Anther diperoleh dari tunas bunga dan dapat dikulturkan pada medium
padat atau cair sehingga terjadi embriogenesis. Selain itu pollen juga dapat
diambil secara aseptik dan dikulturkan pada medium cair. Proses perbanyakan
tanaman haploid dengan menggunakan gametofit jantan semacam ini diesebut
sebagai androgenesis. Ada dua macam androgenesis yaitu androgenesis langsung
dan tidak langsung. Androgenesis langsung adalah proses pembentukan plantlet
haploid dengan menggunakan kultur anther, sedangkan pada androgenesis tidak
langsung adalah plantlet terbentuk melalui pembentukan kallus yang kemudian mengalami
regenerasi menjadi plantlet (Yuwono, 2008).
BAB
III
METODELOGI
3.1.Alat dan Bahan
A. Alat
Alat
yang digunakan yaitu : pinset, gunting, botol kultur, laminar air flow cabinet,
lampu spritus, dan kertas tisu.
B. Bahan
Bahan
yang digunakan dalam percobaan ini adalah bunga papaya jantan dan bunga papaya
betina yang masih kuncup pada berbagai umur fisiologi, media tanaman (komposisi
media MS0), alcohol 70%,.
3.2. Prosedur Kerja
1.
Kuncup bunga dipisahkan dari tanaman
papaya sesuai ukurannya. Ukuran kuncup bunga berkolerasi dengan umur bunga.
2.
Kuncup bunga disterilisasi dengan cara
mencelupkan bunga kedalam alcohol 70% lalu dilewatkan diatas api pembakar
spiritus, lalu diamkan hingga apinya padam.
3.
Langkah ke -2 diulangi hingga 2 ksli
4.
Kuncup bunga dibuka dengan pinset dan
korolnya dibuang dengan hati-hati agar anteranya tidak rusak
5.
Anteranya dilepaskan dari tangkai bunga
dan tanam pada media kultur N6
6.
Kultur antera selanjutnya disimpan pada
kondisi gelap untuk menginduksi pertumbuhan kalus
Selanjutnya dilakukan
pengamatan , yaitu :
1.
Jumlah antera per bunga dan warna antera
2.
Jumlah antera yang tetap kuning dan
jumlah yang menjadi coklat
3.
Jumlah kultur yang mengalami kontaminasi
4.
Saat terbentuk kalus dan jumlah antera
yang membentuk kalus
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1.
Hasil
Dari kegiatan praktikum kali ini adalah
mengenai anther pada bunga papaya jantan dan bunga papaya betina yang masih
kuncup. Dimana bunga papaya tersebut memiliki besar dan jumlah benang sari sbb
:
No
|
Ukuran Bunga pepaya
|
Panjang
|
Jumlah
benang sari
|
1
|
Bunga
papaya besar
(kuning)
|
a.
3,3 cm
b.
3,4 cm
c.
3,5 cm
d.
3,4 cm
e.
3,3 cm
|
a.
5
b.
5
c.
5
d.
5
e.
5
|
Rata-rata
|
3,38 cm
|
5
|
|
2
|
Bunga
papaya sedang
(
hijau (-))
|
a.
3 cm
b.
3 cm
c.
2,9 cm
d.
2,5 cm
e.
3 cm
|
a.
5
b.
5
c.
5
d.
5
e.
5
|
Rata-rata
|
2,28 cm
|
5
|
|
3
|
Bunga
papaya kecil
(hijau
(+))
|
a.
1,8 cm
b.
1,7 cm
c.
1,6 cm
d.
1,8 cm
e.
1,6 cm
|
a.
5
b.
5
c.
5
d.
5
e.
5
|
Rata-rata
|
1,7 cm
|
5
|
Dimana didapat hasil dari kultur
anther tersebut adalah :
NO
|
Gambar
|
Keterangan
|
1
|
![]() |
Hasil
penanaman pada minggu pertama
|
2
|
![]() |
Pengamatan
pada minggu kedua
|
3
|
![]() |
Pengamatan
pada minggu ketiga
|
4.2.
Pembahasan
Kultur
antera atau kultur haploid banyak
dipergunakan dalam menghasilkan kultivar-kultivar baru karena memiliki beberapa
keunggulan
Anther diperoleh dari tunas bunga dan dapat dikulturkan
pada medium padat atau cair sehingga terjadi embriogenesis. Selain itu pollen
juga dapat diambil secara aseptik dan dikulturkan pada medium cair. Proses
perbanyakan tanaman haploid dengan menggunakan gametofit jantan semacam ini
diesebut sebagai androgenesis.
BAB
V
PENUTUP
5.1.Kesimpulan
Kultur anther dan serbuk sari digunakan untuk
menghasilkan tanaman monoploid atau haploid. Meskipun mutasi mudah terjadi
dalam sel biakan namun banyak mutasi tersebut bersifat resesif.
DAFTAR PUSTAKA
Hendaryono,D. P.
S. Dan Ari. W., 2004. Teknik Kultur
Jaringan-Pengenalan dan Petunjuk Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif Modern,
Kanisius, Yogyakarta.
Rahardja, D. C.
2001. Kultur Jaringan, Teknik Perbanyakan Tanaman Secara Modern. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Rostini, N.
1999.Diktat Kuliah Pengantar Bioteknologi
Dalam Pemuliaan Tanaman.Bandung :Fakultas Pertanian, Universitas
Pedjadjaran.



